Selasa, 26 Maret 2013

Asma Kinarya Japa

Oleh : Bambang Purnomo Untung Sabdodadi
Klas 1c2a3c Angkatan 1969 
SMP Negeri 1 Wonogiri



Bambang Purnomo di Enchanting Indonesia, Singapura photo bangpurampenchanting_200_zps9902fda1.jpg
Bambang Purnomo Untung Sabdodadi
Arti sebuah nama. Tak berselang lama setelah adzan Isya’ usai dilantunkan, Mas Dodik datang bertamu ke rumah saya.
  
‘’Mas Bambang, ini saya mengantarkan undangan reuni teman-teman kita angkatan tahun 1969,’’ ujarnya membuka percakapan. Undangan saya terima, saya amati dan saya baca tulisan yang tertera di sampulnya. 

Juga saya amati logo Temu Kangen Angkatan 69 – 2013 di sisi kiri. Melihat sikap saya ini, Mas Dodik buru-buru berkata: ‘’Maaf kalau nulis namanya salah.’’

Di sampul undangan tertulis :  

Teruntuk temanku, 
Bambang Purnomo USD
Cubluk RT 1/RW IV 
Wonogiri-57612.

Tidak salah nama saya dituliskan Bambang Purnomo USD. Sebab saya adalah pemilik nama Bambang Purnomo Untung Sabdodadi. Saya sendiri tidak begitu paham mengapa orang tua saya dulu memberikan nama sepanjang itu. 

Di era kelahiran saya di tahun 1955 (saya lahir di Wonogiri, 26 Januari 1955),  sangat jarang orang tua memberikan nama begitu panjang seperti diri saya. Walau di jaman sekarang, terjadi tren yang sebaliknya, orang tua suka menamai putra-putrinya dengan nama panjang-panjang. 

Nama panjang ternyata mengundang sebuah konsekuensi. Sejak masih duduk di bangku SD (saya murid SD VIII Wonogiri), banyak guru yang ketika melakukan absensi murid di awal mengajar, suka meledek saya. ‘’Jenengmu dawane sak genter.’’  Namamu panjangnya segalah bambu. 

Demikian halnya ketika masuk di SMP Negeri 1 Wonogiri pada tahun 1967. Komentar guru terhadap nama saya yang panjang, suka dikemukakan di depan kelas. Di SMP Negeri 1 Wonogiri, awalnya saya masuk di Kelas I C, kemudian naik di kelas II A, dan naik ke Kelas III C. Di II A, waktu itu saya satu kelas dengan Mas Bambang Haryanto. Di Kelas III C sebangku dengan Komarudin, yang suka membagi kepandaiannya menulis arab. Juga satu kelas dengan Mas Lilik Dwi Sularyanto. 

Saya begitu akrab dengan situasi dan kondisi SMP Negeri 1 Wonogiri. Sebab ketika masih duduk di Kelas IV dan kelas V SD, kami bersama rekan-rekan SD VIII menjalani proses belajar dengan mondok di SMP Negeri 1 Wonogiri. Waktu itu kami dimasukkan siang hari, karena bila pagi dipakai belajar murid SMP Negeri 1 sebagai tuan rumah. Siang hari, juga dipakai untuk belajar murid-murid SMP Netral. 

Kembali kepada soal nama. Karena begitu panjang, saya merasa repot ketika harus membuat tanda nama (pakai huruf kapital) untuk diletakkan di meja murid masing-masing. Ini menjadi sesuatu yang wajib ketika berlangsung mata pelajaran bahasa Inggris. Waktu itu, saya tuliskan BPU Sabdodadi. Sesekali, tanda nama lupa tidak terbawa ke sekolah. Ini membuat saya sering pinjam sepeda milik Mas Diro (Sudiro) untuk mengambil tanda nama ke rumah, daripada kena marah guru.  

Berbicara nama, orang barat sering mengatakan ‘’What is a name ?’’ Apalah arti sebuah nama ?  Tapi orang Jawa menyatakan: Asma kinarya japa. Nama sebagai mantera doa. Sebagai doa, tentu saja mengandung misteri. Karena sepenggal mantera doa yang dibuat nama, itu memiliki dimensi spiritual yang mengarah pada makna permohonan dari orang tua, untuk anak ‘kekudangannya’ sebagai generasi penerusnya. 

Karena nama dipahami sebagai bagian misteri dari mantera doa, saya sendiri kurang begitu paham ketika oleh orang tua saya (Sarino Hadiwasito-Gulastri), memberikan nama kepada saya sepanjang itu. Yang oleh guru di sekolah, itu sering disebutkan sepanjang genter.
 
Bambang Purnomo dan keluarga di Monumen Bom Bali, Denpasar photo bangpurampklg_575_zps8bd07daf.jpg
BOM BALI. Bambang Pur, istri, dan anak-anaknya, di depan monumen Bom Bali.
Keberuntungan. Saya tidak paham mengapa saya dulu tidak diberi nama yang singkat, cukup satu kata seperti nama Presiden RI Soekarno atau Soeharto. Atau Harmoko yang memiliki masa panjang ketika jadi menteri di jajaran Kabinet Pembangunan. 

Nama yang cukup pendek, singkat, memang memudahkan ketika mengurus paspor. Nama panjang seperti saya punya, ternyata repot ketika mengurus paspor. Ini sebagaimana saya alami ketika akan melaksanakan tugas jurnalis ke China tahun 1990. Waktu itu, hubungan diplomatic Indonesia-China masih beku. Sebab sejak jatuhnya orde lama di 1966, hubungan diplomatik Indonesia-China yang dulu populer sebagai poros Jakarta-Peking, langsung dibekukan oleh pemerintahan Orde Baru. 

Tahun 1990, saya ditugasi untuk liputan ke  Beijing China dan ke Guangxu. Saya sempatkan berkunjung naik ke tembok besar atau cháng chéng yang legendaris, yang menurut astronot Neil Armstrong (orang pertama yang naik ke bulan) memakai pesawat Apollo, satu-satunya bangunan di bumi yang terlihat dari bulan, hanyalah tembok besar China. Karena itu,tembok besar ini menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. 

Ada dua gerbang yang terbuka untuk mendaki tembok besar China atau Great Wall. Yakni dari Badalling atau Muntianyu. Begitu tiba di atas tembok besar, saya jadi teringat pada guru sejarah SMP Negeri 1 Wonogiri, Pak Kumaidi BA.  ‘’Oh ini to, tembok besar China yang dibeberkan dalam pelajaran sejarah oleh Pak Guru Kumaidi itu ?’’ 

Kata Pak Kumaidi, tembok raksasa China, menurut sejarahnya dibangun oleh tiga dinasti, yakni Dinasti Ming, Qin dan Han, yakni untuk menghalangi prajurit Mongol, agar tidak ekspansi menyerang ke daratan China. Tembok Raksasa Cina, dibangun dengan bentuk menyesuaikan kontur pegunungan Cina Utara. 

Bambang Purnomo di Tembok Besar, Cina photo bangpuramptembokcina_575_zpsb7051f9a.jpg
GREAT WALL. Bertengger di Great Wall yang menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia.
Tembok raksasa ini, dikonstruksikan pada periode Dinasti Ming, panjangnya adalah 8.851 km. Tembok panjang ini, dikenal istilah changcheng (tembok besar atau tembok panjang). Istilah Tembok Raksasa Cina dalam Bahasa Mandarin adalah wanli changcheng, bermakna tembok yang panjangnya 10 ribu li.  

Belakangan muncul kontroversi tentang  great wall China, utamanya tentang penyebutan sebagai salah satu bangunan buatan manusia yang terlihat dari ruang angkasa atau dari bulan. Dikatakan kontroversi, karena setelah dilakukan investigasi, persepsi tersebut tidak benar. Great wall tidak dapat dilihat dengan mata dari bulan. 

Bahkan lembaga antariksa Amerika, NASA, menyatakan: "The Great Wall can barely be seen from the Shuttle, so it would not be possible to see it from the moon with the naked eye." Meskipun dalam pelajaran sejarah, terlanjur disebutkan great wall merupakan satu-satunya bangunan manusia yang terlihat dari bulan. 

Pembangunan tembok raksasa China, paling awal dilakukan pada musim semi, ketika negara mengalami perang (453 SM- 221 SM). Tujuannya, untuk menahan serangan musuh dan suku-suku dari utara Cina.

Bambang Purnomo di Lapangan Tian An Men, Beijing, Cina photo bangpuramptiananmen_575_zpsb3aea3aa.jpg
TIAN AN MEN. Hamparan luas berlandaskan beton keras di Lapangan Tian An Men.
Saya juga menyempatkan ke istana kaisar terakhir (Last Emperor) dan ke Kota Terlarang atau  Forbidden City, serta ke lapangan Tian An Men. Lapangan luas dengan hamparan tegel beton keras, yang dulu untuk membantai ribuan mahasiswa dan para demonstran, tatkala akan menggulingkan dan menuntut mundur penguasa China Deng Xiao Ping. Ribuan demonstran, itu digilas pakai tank yang itu dilukiskan bagai mentimun yang digilas pakai buah durian. 

Untuk ke luar negeri, diperlukan syarat pemilikan paspor. Saat mengurus paspor, petugas Kantor Imigrasi di Solo menyingkat nama saya dituliskan sebagai berikut: Bambang Purnomo US. Ketika kembali mengurus paspor untuk tujuan ke Belgia tahun 2006, guna mengikuti misi kesenian Sadupi (Sarana Duta Perdamaian Indonesia pimpinan Bupati Begug Poernomosidi), Kantor Imigrasi menuliskan nama saya di paspor : Bambang Purnomo Untung S. 

Nama Bambang Purnomo Untung S, kembali dituliskan dalam paspor ketika saya ikut rombongan Pemkab Wonogiri yang dipimpin Bupati Begug Poernomosidi, ke Nanning China pada tahun 2007. Saat check in di Bandara Soekarno-Hatta, waktu itu saya sempat diingatkan oleh petugas imigrasi, yang menyatakan mestinya harus mengurus paspor baru, sebab masa berlakunya tinggal tersisa 60 hari. Karena saya pahamkan bahwa saya berkunjung ke China hanya selama sepuluh hari, saya tetap diloloskan. 

Tahun 2007 itu, untuk keduakalinya saya transit di Bandara Internasional Hongkong. Yang ternyata bandara itu telah dibangun sedemikian luas dan berkembang makin modern. Oleh pemandu perjalanan, Rafel, saya kena semprot, sebab saya tak melengkapi dengan dokumen untuk izin tinggal di China. Itu pernah diurus, tapi visa diri saya rupanya kesingsal

‘’Eit, celaka,’’ pikir saya. Sebagai solusinya, saya secara khusus diajak melalui jalur ‘tikus,’ dengan memisahkan diri tidak ikut rombongan. Tapi diselundupkan dengan naik kereta api. Pamrihnya, untuk urusan keimigrasian di stasiun, mengurusnya relatif lebih longgar bila dibandingkan ketika melalui pos jalur darat di tapal batasHongkong-China. 

Ketika berhasil lolos untuk urusan keimigrasian di stasiun KA, kembali saya diledek soal keberuntungan karena namanya dilengkapi dengan Untung. ‘’Pak Bambang, untung karena kamu ada Untung-nya, sehingga tetap saja beruntung dapat lolos,’’ ujar Rafel, yang mengaku putra Indonesia kelahiran Ambon Maluku. 

Ketika kembali mengurus paspor untuk tugas peliputan event internasional Indonesian Enchanting di Singapura tahun 2010, nama di paspor saya tetap tertulis Bambang Purnomo Untung S. 

Terkait soal nama yang panjang ini, menjadikan orang-orang tidak dapat seragam ketika memanggil saya. Ada yang Bambang, ada yang Purnomo, adayang panggil Untung, dan ada yang Sabdodadi. Belakangan saya suka pakai nama Bambang Pur, terlebih untuk urusan yang berkait dengan tugas-tugas jurnalistik yang menjadi jalan hidup saya.  

Jalan PenaTak terbayangkan mengapa saya kemudian memilih jalan pena, untuk menjalani profesi sebagai kuli tinta (kuli disket) atau wartawan. Ini, saya jalani sejak tahun 1975. Menjadi wartawan surat kabar harian umum ‘Suara Merdeka’. Selama menjadi wartawan di koran terbesar dan tersebar di Jateng ini, pernah beberapakali saya mendapatkan penghargaan sebagai wartawan berprestasi, karena dinilai produktif dalam melaksanakan pekerjaan mencari dan menuliskan berita.
Bambang Purnomo dengan latar belakang patung Merlion, Singapura photo bangpurampsingapura_575_zpse828ea77.jpg
PATUNG SINGA. Merlion, patung kepala singa berbadan ikan, Singapura.

Betul apa yang dituliskan oleh Mas Bambang Haryanto di: wng69.blogspot.com tentang diri saya dan profesi wartawan. Saya banyak menimba ilmu dari Mas Bambang Haryanto dalam hal tulis menulis di media cetak. Dia, dulu aktif menjadi reporter di sejumlah majalah terbitan Jakarta, dengan nama beken Harry Tekssi.   

Sebenarnya, saya malu menuliskan kisah hidup saya ini, sekalipun untuk keperluan internal terbatas bagi rekan-rekan se-angkatan 1969. Sebab, sepertinya tidak ada yang dapat dibanggakan dari diri saya. Tidak ada yang istimewa dari perjalanan hidup saya. Tapi email Bambang Haryanto yang dikirimkan ke saya, memaksa saya harus menuliskan ini, demi memenuhi ‘siksaan’ yang disodorkan oleh dia. 

Saya berumah tangga tahun 1990, mendapatkan jodoh cewek dari Desa Pijiharjo, Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri, Gunarsi. Dia berprofesi sebagai guru di SMK Negeri 1 Wonogiri. Pendidikan saya, kalah tinggi dengan istri. Saya hanya S1, sedang istri saya S2. 

Saat ini tinggal di Lingkungan Cubluk RT 1/RW 4, Kelurahan Giritirto, Kecamatan dan Kabupaten Wonogiri. Kode pos: 57612. Email: bangpurn@gmail.com. Telepon: 0273321331, ponsel: 08122966614. 

Dengan istri saya Gunarsi, saya dikaruniai dua anak, cewek semua, alias dua putri. Yang sulung bernama Ajeng Pratiwi dan yang bungsu bernama Mulya Dewi. Kedua anak saya ini, pernah memprotes ayahnya. Mengapa memberi nama cukup hanya dua kata. Pada hal, tren nama anak sekarang panjang-panjang. ‘’Bukankah nama ayah juga panjang ? Mengapa nama saya hanya pendek ?’’ begitu dia memprotes. 

Menyikapi protes anak saya tentang namanya yang hanya pendek, serta merta saya teringat obrolan guru jurnalistik saya, yakni wartawan senior yang jadi tenaga pendidik dan instruktur di Lembaga Pendidikan Pers Dr. Sutomo Jakarta. Amir Daud namanya. Amir berkata: ‘’Nama yang menginternasional itu, cukup dua kata.’’ 

Mengatakan demikian, dia sambil memberikan contoh seperti nama Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan, John Kennedy, Bill Clinton. Bahkan Presiden pertama negara adi kuasa, namanya juga cukup dua kata, yakni George Washington yang gambarnya diabadikan di lembaran uang dolar yang mendunia itu. Nama-nama mereka, itu cukup dua kata. 

Petinju legendaris yang namanya mendunia, namanya hanya terdiri dari dua kata: Mohamad Ali atau George Foreman. Bintang film laga populer, namanya juga dua kata, yakni Chuck Norris, John Rambo atau Jackie Chan. Maha bintang panggung yang menginternasional, namanya juga hanya dua kata, yakni Michael Jackson. 

Mendengar argumentasi tentang nama-nama yang menginternasional, yang cukup dengan dua kata itu, kedua anak saya hanya manggut-manggut.


Bambang Purnomo di depan Kedubes Indonesia di Brussels, Belgia photo bangpurampembassy_575_zpse5272e9e.jpg
KEDUTAAN. Di Embassy of the Republic of Indonesia alias kedutaan besar.
   
Abdi Warta. Karena kesetiaan menjalani profesi sebagai wartawan, di era kepemimpinan Bupati Wonogiri dijabat Drs H Tjuk Susilo (1995-2000), tepatnya pada tahun 2000, saya diberi anugerah Panca Warsa Abdi Warta.Penghargaan sama yang berkaitan dengan pengabdian jurnalistik diberikan pada masa kepemimpinan selama 10 tahun (dua periode) Begug Poernomosidi ketika menjadi Bupati Wonogiri dari tahun 2000 sampai tahun 2010. 

Saya diberi anugerah Dasa Warsa Abdi Warta. Anugerah ini, diserahkan bersamaan dengan puncak peringatan hari jadi Kabupaten Wonogiri ke 269, tepatnya tanggal 19 Mei 2010.


Bambang Purnomo bersama ahli tosan aji photo bangpurampkeris_575_zps879ca57e.jpg
KERIS. Bersama empu keris Surakarta MNg Daliman Sukadgo.
Dari Bupati Begug Poernomosidi, saya juga diberi piagam penghargaan dalam gelar pameran tosan aji. Hampir setiap datang Bulan Sura di era kepemimpinan Bupati Begug, saya dipercaya untuk tampil ikut menjadi panitia pameran tosan aji dan gelar bowo raos masalah Kejawen, di pendapa Kabupaten Wonogiri. 

Di era kepemimpinan Bupati Begug, saya dipercaya pula untuk menuliskan dua buku, yang masing-masing berjudul  Satriya Pambukaning Nagari (tahun 2005) dan buku berjudul  Gondomono Luweng (tahun 2010). Sebelumnya, di era Bupati Drs Oemarsono, saya diberi penghargaan berkaitan dengan penulisan buku berjudul Sukses (1990), yang buku tersebut menjadi bacaan di perpustakaan sekolah se-Kabupaten Wonogiri.  

Semasa Ingkang Sinuhun Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) XII berkuasa di Surakarta, tepatnya pada tahun 2003,  saya mendapatkan ‘kekancingan’ anugerah ‘paringan sampeyan dalem,’ diangkat sebagai abdi dalem Keraton Surakarta, dengan diberi pangkat Bupati Anom, dan gelar Raden Tumenggung (RT) Purnomo Tondo Nagoro. 

Krida spiritual Jawa. Sejak remaja, saya memiliki ketertarikan pada budaya Jawa, kawruh Kejawen dan spiritual. Suka terhadap pagelaran wayang kulit, terlebih pada lakon-lakon tertentu, yang mengupas tentang jati diri manusia dan ilmu kasampurnaning urip, serta yang mengandung filosofi dan tuntunan luhur bernuansa Kejawen. 

Karena ketertarikan pada kawruh Kejawen dan spiritual, saya berkenalan akrab dengan tokoh supranatural KRMH Djoko Maryanto Hamidjojo (Ki Djoko Solo) dan KH Kamsuri (Boyolali), yang keduanya juga menjadi penasehat spiritual Raja Surakarta (PB XII). Dari kedua tokoh ini, saya banyak mengenali hal-hal gaib yang sulit diurai dengan akal pikiran manusia. 

Dari Ki Djoko Solo dan KH Kamsuri, saya diberi sejumlah keris. Bermula dari ini, saya kemudian memiliki ketertarikan pada keris. Sebagaimana diketahui, oleh lembaga dunia Unesco, keris diakui sebagai budaya aseli Indonesia yang menjadi warisan dunia, bersama wayang kulit dan batik. 

Saya juga dihadiahi keris dari Bupati Begug Poernomosidi, Wakil Bupati dokter Y Sumarmo, Bupati Danar Rahmanto, Ketua DPRD Wawan Setya Nugraha S.Sos, Kepala Dinas Pariwisata Drs Pranoto MM, dan dari Kabag Humas Pemkab Waluyo S.Sos MM. Kok ngelantur sampai keris segala ?  

Dan akhirnya:

Batu kapur jangan dibelah,
Kayu gaharu dari Kalimantan.
Bila kataku ada yang salah,
Mohon bapak ibu memaafkan.



Wonogiri, 8 Maret 2013

Blog Awal : Bambang Purnomo 69

Blog BP